SOCIAL MEDIA

Thursday, February 8, 2018

Night Thoughts #4 : Salah Dia, atau Salah Dia?


Catatan : Saya belum menikah, dan belum punya anak. Saya murni ingin menulis ini karena rasa gregetan yang menghantui pikiran saya sejak lama. Topik kali ini adalah : Keanehan Anak Masa Kini.

Jadi, kejadian ini sebenarnya sudah agak lama, keluarga saya memiliki usaha warnet dan warnet tersebut kami jaga sendiri secara bergantian. Di warnet keluarga saya ini orang-orang yang datang itu macam-macam banget, dari yang normal, sopan, sampai yang aneeeh banget ada lho.


Suatu hari datang bapak-bapak ke warnet, nah bapak-bapak itu mengobrol dengan bapak saya sembari menunggu anaknya. Nah diantara sekian banyak topik yang dibicarakan, ada satu topik yang bikin saya agak miris gitu. Yuk kita mulai :

"Kemarin itu anak saya sempat mogok sekolah Pak, marah-marah ke saya, soalnya nggak saya belikan sepeda motor. Katanya kalau nggak dibelikan sepeda motor dia nggak mau sekolah"

Dalam hati saya membatin, terus pak? Terus? Gimana pak?

"Akhirnya saya kreditkan sepeda motor pak, yang penting anak saya mau sekolah"

Kenapa kau lakukan itu Pak~?

Dari hal tersebut, saya benar-benar yakin sekarang dunia serba terbalik, kalau dulu, seorang anak biasanya patuh dan takut pada orangtuanya, sekarang? Banyak orangtua yang nggak berdaya menghadapi anaknya, contohnya bapak tersebut.


Kenapa Mereka Seperti Ini? 

Oke kita beranjak dulu dari cerita tadi, masih dengan topik yang sama : Keanehan Anak Masa Kini. Pasti kita semua pernah mengetahui berita kekerasan yang dilakukan anak dibawah umur bukan? Seperti yang paling baru yakni guru tewas karena dianiaya muridnya, atau kasus lainnya seperti seorang anak di aniaya teman-temannya karena Ia melakukan gol bunuh diri, sampai maraknya cinta-cintaan yang dilakukan anak dibawah umur.

Namun kasus yang saya cantumkan diatas itu hanya sebagian kecil kasus anak masa kini yang terjadi di Indonesia. Kebanyakan dari orang-orang seringkali berkomentar seperti : "Ah kebanyakan makan micin", "Gini nih jadinya kalau tayangan televisi kontennya nggak bermutu", dan lain-lain.

Tapi mungkin kita melupakan satu hal yang terpenting. Semua manusia ketika lahir ibarat adalah kertas putih yang bersih dan suci, dia seperti apa kelak adalah hasil dari siapa yang menggoreskan sesuatu di kertas putih tersebut. Lebih mudahnya : sikap seorang anak adalah hasil dari didikan lingkungan terdekatnya, yakni keluarganya, atau lebih spesifiknya adalah kedua orangtua mereka.

Saya pernah iseng bertanya ke kedua orang tua saya, gimana kalau seandainya saya bukan seperti Gita yang sekarang, tapi Gita yang mungkin merokok, ikut anak-anak punk, misuhan, nggak mau sekolah kalau nggak dibelikan sesuatu, dan sifat-sifat lain yang nggak ada di diri saya yang sekarang.

Mereka cuma senyum sambil bilang :

"Bapak sama Ibu nggak bisa membayangkannya"

Haaaa?

Saya jelas bingung dong mereka menjawab seperti itu, padahal saya sudah membayangkan mungkin mereka akan menjawab "Ya kamu ta' tendang dari rumah", "Kamu ta' pecat dadi anak", atau "Yo kamu wes ta' pondokno ae, timbangane ribet".

Bapak saya menjelaskan bahwa setiap orang tua itu ibarat desainer, ya, mereka mendesain anak mereka. Seperti apa jadinya nanti itulah adalah hasil desain masing-masing orangtua. Bapak saya bilang bahwa sejak saya lahir, bapak saya sudah mendesain saya, mendesain agar saya anaknya begini, begitu, sehingga bapak saya nggak bisa membayangkan saya menjadi seseorang yang diluar desainnya.

Saya sebagai seorang mahasiswa di bidang desain, bisa mengerti maksud bapak dengan sangat jelas. Ketika saya mendesain sesuatu, saya membuat sketch (dan sketch ini dibuat lebih dari 2 sketch untuk alternatif), konsep dan segala tetek bengeknya dulu dengan matang, saya bahkan merencanakan software apa yang akan dipakai, apakah coloringnya menggunakan Adobe Photoshop atau dengan Manga Studio, melayoutnya dengan Adobe Illustrator, Adobe InDesign, atau Corel Draw. Dan estimasi pembuatannya berapa jam atau hari pun saya pikirkan secara matang.

Dan benar saja, ketika desain saya sudah jadi, saya tidak bisa membayangkan seperti apa desain saya kalau tidak di desain seperti desain yang sudah jadi tersebut. Mungkin paling mentok yang cuma membayangkan bagaimana kalo saya mem-finalkan sketch dan konsep saya yang lainnya.

Nah, sebelum kita men-judge perilaku anak-anak masa kini. Kita para netizen perlu melihat dari perspektif yang berbeda (cieelaaah). Karena sejatinya anak-anak awalnya adalah kertas putih, lalu pasti ada yang menghiasi mereka dengan coretan-coretan. Dan coretan-coretan awal yang ada dalam diri mereka di gambar oleh orang terdekat mereka.

Bapak-bapak yang datang ke warnet tersebut sebetulnya memberikan sebuah coretan yang tak baik untuk anaknya, karena dengan bapak tersebut akhirnya menyerah dengan membelikan sepeda motor anaknya agar anaknya tetap mau sekolah, sang anak akan berpikir bahwa kalau dia ingin apapun, tinggal mengancam orangtuanya saja, karena semuanya pasti bakal dipenuhi. Percayalah, sang anak akan terus meneror orangtuanya dengan ancaman-ancaman lainnya. Kecuali seseorang berhasil menghentikan anak itu. Atau nggak, anak itu sudah tobat dan akhirnya mau menerima keadaan orangtuanya (amin).

Dan menurut bapak saya, anak tersebut bisa saja bersikap seperti itu karena 2 hal : Satu. Ia meniru seseorang / meniru adegan film atau sinetron. Dua. Kedua orangtuanya selalu mengabulkan permintaannya kalau Ia mengancam. Mungkin saja seperti itu. Tapi kita tak ada yang tahu, namun bapak saya beranggapan, ancaman seperti itu lebih baik tidak dihiraukan, karena kalau terus dikabulkan, sampai kapanpun, sang anak akan seperti itu.

Kalau anda, yang sudah punya anak, cara anda mengatasi anak anda yang permintaannya aneh-aneh dan mengancam kalau tidak dikabulkan bagaimana? Share di kolom komentar ya, saya penasaran ^^

Cinta-Cintaan

Kalau perihal anak-anak sudah cinta-cintaan di usia dini, kan banyak netizen Indonesia yang bilang bahwa hal tersebut efek melihat sinetron yang memperlihatkan cinta-cintaan. Kita perlu tahu, bahwa di sinetron tersebut ada label BO, alias Bimbingan Orangtua.

Jadi, semua tayangan di televisi itu sebenarnya ada ratingnya kok. Mulai dari A (Anak-anak), SU (Semua Umur), R-BO (Remaja - Bimbingan Orang Tua), dan D (Dewasa), dan rating ini selalu ada di setiap tayangan tipi, biasanya ada di pojok kanan bawah, atau mungkin di pojok lain, tapi pasti ada kok.

Kan sinetron romansa di televisi ini ratingnya R-BO alias Remaja - Bimbingan Orangtua. Pertanyaannya adalah "Apakah para Orangtua membimbing anaknya ketika anak-anak tersebut menonton siaran tersebut SESUAI dengan anjuran rating acara dari stasiun televisi?"

Apakah....?

Saya masih ingat, sangaaaat ingat. Dulu saya pernah nonton salah satu film layar lebar, ceritanya romansa, dan ada adegan ciumannya, waktu itu saya nonton pas umur 13 tahun (baru masuk SMP kalau nggak salah). Tapi Ibu saya setia menonton bersama saya. Pas ada adegan mesra, sampai adegan ciuman, beliau cuma dengan lembut bilang "Itu budaya orang barat ya nak, kan kita orang timur, itu bukan budaya kita, kalau mau ciuman atau yang lainnya harus dengan seseorang yang sudah sah jadi suami". Setiap denger nasehat Ibu yang satu itu saya cuma bisa manggut-manggut aja, dan ya sampai sekarang masih tertanam di lubuk hati terdalam saya, sehingga saya ya... Menganggap pacaran di usia SMP adalah hal yang terlalu cepat.

Karena dari saya kecil saya selalu diberitahu kalau mau mesra-mesraan harus sama yang sah jadi suami, orang-orang harus maklum akan kelakuan saya kalau nonton film atau drama pas ada adegan ciuman, saya pasti bakal teriak "WOI BUKAN MUKHRIM MBAAAK MAAAS".

Ya padahal saya tahu itu akting, tapi ya tetep aja "BUKAN MUKHRIM MAAAS MBAAAK".

Dan hingga saat ini, ketika saya menulis postingan ini, saya berumur 22 tahun, Ibu saya masih setia menemani saya menonton, namun sudah tidak se-intens dulu, mungkin karena saya sudah besar, jadi Ibu saya yakin saya bisa lah mengatur tontonan saya sendiri. Dan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk ditiru.

Saya juga ingat... Bahkan saya beli novel pun, kalau novelnya sudah selesai saya baca, pasti selanjutnya akan Ibu saya baca. Dan apabila novelnya tergolong 'aman', beliau nggak akan komentar apapun, mungkin cuma sekedar komentar "Ibu habis baca novelmu, Ibu sekarang yakin, kamu pasti nanti kalau punya anak mau dikasih nama Daya sama Langit kan? Ngaku!" atau nggak "Cucunya Ibu kayaknya ntar namanya Hermione nih..."

Tapi dulu ada pengalaman saya, waktu itu saya masih kelas 5 SD, saya membeli sebuah komik, komik tersebut sangat cantik covernya, bergambar seorang wanita dengan gaun pernikahan yang bagus, dan juga Ia memakan sepotong cake dengan stroberi. Waktu itu, saya mengambil komik tersebut karena covernya yang cantik.

Sampai di rumah, saya baca komiknya, cerita yang bisa saya tangkap waktu itu hanya satu : Komiknya tentang perancang busana pernikahan. Titik.

Lalu ternyata tanpa saya ketahui Ibu saya ikutan baca komik itu karena beliau bilang dulu itu saya kalau beli komik pasti Doraemon, Kobochan, atau nggak majalah Disney Princess. Makanya Ibu saya sebenarnya udah curiga sama komik yang saya beli itu karena itu pilihan saya yang nggak biasa. Dan apakah hasilnya?

Komik tersebut bergenre dewasa. Dan ternyata dibagian belakang komik, tepat diatas barcode ada tulisan 'KOMIK DEWASA'. Karena cerita komiknya (saya baca ulang ketika saya SMK), adalah seorang desainer baju pengantin yang jatuh cinta pada patisserie yang merupakan tunangan sahabatnya yang sudah meninggal dunia, namun Ia selalu merasa bersalah pada sahabatnya karena ketika sahabatnya masih hidup dan sudah bertunangan dengan patisserie tersebut, sang perancang baju ini jatuh cinta pada tunangan sahabatnya tersebut, mereka bahkan selingkuh dan sahabatnya ini mengetahuinya kalau mereka berselingkuh, sehingga si desainer ini menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang terjadi pada sahabatnya.

Oke itu garis besar ceritanya, bagi kita yang sudah dewasa, mungkin cerita tersebut terlihat menarik. Namun untuk anak-anak? Itu bukan cerita yang patut di berikan untuk anak-anak. Bahkan remaja sekalipun. Tapi untungnya, karena terlalu lugu, saya dulu hanya fokus pada sekitar 20 halaman pertama komik, yang menunjukkan desain-desain baju pengantin yang cantik serta kue-kue pernikahan yang nggak kalah cantik bentuknya. Saya benar-benar nggak memperhatikan halaman-halaman berikutnya yang sudah mengarah ke konflik cinta.

Setelah di baca Ibu saya, Ibu saya cuma dengan gampang bilang "Nduk, ini komik dewasa lho, salah beli kayaknya ya... Komiknya Ibu simpan dulu, Gita boleh baca lagi kalau sudah SMA ya". Dan yaps, ketika akhirnya saya masuk SMA, dengan ajaib komik itu balik lagi ke rak komik. Mind blown!


---

Jadi intinya adalah, bimbingan orangtua itu perlu. Nonton apapun, membaca apapun, seorang anak harus di awasi. Kalau anda sebagai orangtua memutuskan untuk membelikan anak anda sebuah gadget untuk dipakai oleh anak anda dengan alasan apapun, perhatikan apa yang dia lihat, situs apa saja yang dibuka olehnya, apa saja video yang dilihat. Kalau anda membuatkan akun facebook untuk anak anda yang usianya masih belia, tolong terima konsenkuensinya Ia bisa saja berteman dengan seseorang yang lebih dewasa dan orang tersebut akan memposting sesuatu yang bisa saja ditiru oleh anak anda.

Jangan serta merta menyalahkan sang gadget, menyalahkan facebook, menyalahkan sinetron, menyalahkan semua orang. Sang anak bertingkah seperti apa, harus dilihat dari akarnya, siapa yang mengajarinya? Apakah ada yang mengawasinya selama ini?

Tidak ingin anak anda meniru sinetron? Awasi Ia ketika menonton sinetron, apabila dirasa sinetron kurang baik, tetapi anak anda menyukai sinetron tersebut, coba cari hiburan alternatif. Mungkin dengan cara membaca buku bersama anda, belajar merajut, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Ibu saya selalu melakukan metode tersebut dengan sangat smooth sehingga saya nggak tahu kalau perhatian saya sedang dialihkan. Beliau mengalihkan perhatian saya dengan cara memberi saya bacaan yang menarik, mengajak saya mewarnai, dan lain-lain.

Dan untuk para netizen! (saya juga sih ihihihik). Kalau lihat berita tentang kelakuan-kelakuan aneh anak masa kini, jangan langsung menyalahkan teknologi yang ada saat ini atau langsung melayangkan komentar "Dasar generasi micin!" karena micin nggak boleh disalahkan, micin ditemukan tahun 1908, kalau gitu mah kita semua generasi micin dong :') harusnya jadikan pelajaran untuk kita sendiri, mungkin untuk yang sudah punya anak agar lebih membimbing anaknya, lebih meluangkan waktu untuk anaknya, gitu.

Untuk yang belum punya anak (dan belum menikah) kayak saya, mungkin bisa dijadikan persiapan untuk mendidik anak di jaman yang memang agak aneh dan harus serba hati-hati ini.

Mohon maaf kalau ada pemakaian kata saya yang agak menggelitik dan membuat amarah naik, dan mohon maaf juga kalau postingan ini ternyata puanjang banget! Hihihi. Because this is #NightThoughts baby! Kalau menurut kalian, bagaimana sih fenomena sikap-sikap anak masa kini yang agak aneh? Share your comment below, I'd love to know!


With Love,
Ghassani Gita Nirwanawati

4 comments :

  1. Hal-hal kaya yang mbak bahas tersebut emang sekarang jamak terjadi. Nggak bermaksud menyalahkan, tapi peran didikan orang tua emang ada. Dan inget, zaman ini banyak orang tua yang kaget atau gagap dgn perkembangan teknologi jadi hal itu menurutku mempengaruhi pada cara mereka mendidik anak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, terkadang juga kasihan melihat orang tua yang belum bisa mengikuti perkembangan teknologi jadi terkadang kaget dan bingung mereka harus bagaimana, ingin mengawasi apa yang anak lihat di internet mereka juga tidak tahu caranya :( serba salah..

      Terimakasih sudah berkunjung mbak ^^

      Delete
  2. gitaa, aku suka sekali dengan postingan postingan kamu. Asli, bakalan jadi new fav web ini 😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah kalau Venny sukaa <3 Terimakasiiih! Semoga postingan aku bermanfaat ya buat Venny ^^

      Terimakasih banyak sudah berkunjung Venny :3

      Delete