SOCIAL MEDIA

Sunday, August 5, 2018

Night Thoughts #5 : Sepiring Nasi


Sebenarnya ini cerita yang sudah lumayan lama. Malam itu terasa lebih sejuk dari biasanya, hingar bingar suasana lebaran masih sangat terasa di daerah Kota Ponorogo, dimana-mana terlihat banyak sekali keluarga-keluarga yang berkumpul dan melepas rindu dengan bahagia di hari yang spesial ini.

Sama seperti yang lainnya, saya, bapak, ibu, dan saudara-saudara saya yang dari Ponorogo juga berkumpul malam itu. Kami memutuskan untuk menyantap sate khas Ponorogo yang selalu menjadi makanan favorit kami. Karena malam itu masih lebaran hari ke-2, tentu saja tempat kami membeli sate sangat penuh, dan kami terpaksa makan di luar tempat tersebut. Tapi untungnya walaupun terpaksa makan di luar tempat jual sate, kami menemukan tempat makan yang cukup nyaman.

Biasanya nih, biasanya. Saya nggak terlalu suka makan di tempat yang sedang ramai pengunjungnya, maklum kurang suka dengan keramaian. Namun hari itu saya justru mendapatkan kedamaian di dalam hati saya, entah mengapa.

Tiba-tiba datang seorang pemulung tua yang mendekat ke tempat sampah yang berada tak jauh dari tempat saya duduk. Ia mengambil beberapa botol plastik dan memasukkannya ke karung putih lusuh yang dipikulnya. Keringat terlihat mengucur dari keningnya, pemulung tua itupun duduk disebelah tempat sampah tadi, sepertinya Ia beristirahat sejenak.

"Punya uang cash 20 ribu?" Celetuk Bapak saya tiba-tiba.

Saya mengiyakan pertanyaan Bapak saya, dan tanpa bertanya banyak memberikan beliau uang cash sebesar 20 ribu. Bapak saya pun langsung bergegas pergi mendatangi pemulung tadi dan memberikan uang 20 ribu tersebut kepada pemulung tua tadi sembari menepuk pundak pemulung tua itu dengan pelan.

Saya jadi teringat kejadian beberapa bulan yang lalu. Saya kehabisan pembalut ketika saya sedang datang bulan, dan waktu itu sudah pukul 22.00. Akhirnya Bapak mengantarkan saya ke minimarket yang buka 24 jam. Waktu itu hanya saya yang masuk ke dalam minimarket dan Bapak menunggu saya di luar. Ketika saya sudah selesai membeli barang yang saya butuhkan, saya keluar dari minimarket dan disambut dengan pertanyaan yang sama.

"Punya uang cash 20 ribu?"

---

"Pak, kenapa kok Bapak memberi mereka uang?" Tanya saya penasaran.

Bapak tertawa mendengarkan pertanyaan saya. "Karena mereka membutuhkannya, Git" Jawab Bapak kemudian.

"Kok tahu mereka membutuhkan pak?" Tanya saya lagi.

"Kamu tahu kan sekarang lebaran hari ke berapa? Hari ke-3 nduk. Dimana orang-orang banyak yang sedang menikmati waktu bersama keluarganya." Jawab Bapak. "Kalau mereka nggak benar-benar butuh uang, pasti mereka akan lebih memilih berkumpul sama keluarganya, mereka juga nggak mengemis nduk, mereka bekerja, mencari sampah-sampah plastik yang bisa dijual"

Lalu Bapak terdiam.

"Semua itu mereka lakukan untuk mencari sepiring nasi, kamu yang berkecukupan masih mau mengeluh kalau lauk di meja makan tidak sesuai dengan seleramu?"

---

Mengingat kembali percakapan pada malam lebaran waktu itu saya jadi miris dengan diri saya sendiri yang terkadang lupa untuk bersyukur. Disaat banyak orang diluar sana dengan susah payah mendapatkan sepiring nasi, saya malah banyak maunya, kalau makanan dirumah bikin nggak selera lebih memilih beli diluar atau bikin mie instan. Disaat orang diluar sana mencari rupiah demi rupiah dengan keringat bercucuran dan rasa lelah yang tak terkira, saya malah dengan santainya menghambur-hamburkan uang dengan membeli barang yang belum tentu berguna untuk saya.

Bersyukur.

Hal sederhana yang terkadang saya lupa bagaimana Ia sangat sulit untuk diterapkan dalam kehidupan saya sehari-hari, karena saya terlalu egois untuk menyadari bahwa saya adalah orang yang beruntung karena hidup berkecukupan.

Hari itu, sepiring nasi mengingatkan saya untuk lebih bersyukur dengan apa yang sekarang saya miliki.


Photo Credits :
Photo by Vitchakorn Koonyosying on Unsplash

Post a Comment